Archive

Monthly Archives: February 2012

Keuntungan menonton sebuah film dengan konsep omnibus adalah kesempatan untuk menyaksikan sejumlah kisah yang dibungkus dalam satu paket. Omnibus juga dapat menjadi sarana bagi beberapa sutradara pemula untuk dapat memperkenalkan karyanya ke publik karena selain dapat lebih fokus menggarap filmnya yang hadir dalam narasi yang relatif lebih pendek juga tidak harus terbebani sendiri dengan sejumlah prosedur rumit dalam membuat film panjang. Dan tampaknya akhir-akhir ini proyek omnibus laris manis diterapkan oleh para sineas kita, sebut saja Takut, Jakarta Magrib atau FISFIC 6 Vol. 1 sebagai contohnya. Menyusul kini ada Dilema yang merupakan proyek keroyokan empat sutradara muda dalam usia dan karya, Adilla Dimitri, Robert Ronny, Robby Ertanto Soediskam, dan Rinaldy Puspoyo. Dimitri dan Ronny memulai debut mereka melalui Dilema, sedang Soediskam pernah ikut proyek Takut dan 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita dan Puspoyo berpengalaman dalam mengerjakan film 6:30.

Read More

Social Media (socmed) seperti Friendster, Facebook dan Twitter tampaknya menemukan tempatnya secara nyaman di Indonesia. Meski kini hanya tersisa Facebook dan Twitter yang marak digunakan, akan tetapi jelas semenjak perkembangan socmed, Indonesia selalu siap merangkulnya sebagai bagian dari keseharian sebagian besar anggota masyarakatnya. Dan apalah arti sebuah fenomena jika  kemudian sebuah film tidak mencoba untuk menangkapnya. Setelah kemarin ada I Know What You Did On Facebook (2010) maka kini bersiaplah untuk #republiktwitter.

Read More

Malaikat Tanpa Sayap

Seingat saya melodrama Indonesia umumnya tak pernah lepas dari haru-biru romansa yang berbau dengan kematian. Kematian yang selalu berperan untuk menggerakkan arus emosi di dalam pergerakan alurnya. Kematian yang seolah-olah menjadi alat untuk memancing rasa haru dan kasihan kepada karakter-karakternya. Dan Malaikat Tanpa Sayap (MTS) sebuah film yang rilis di awal 2012 masih menggangap formula klise tersebut ampuh dalam menjadi agenda berceritanya. Kisah sepasang muda-mudi yang kekuatan cintanya harus diuji dengan maut yang membayangi karena, tiada lain tiada bukan, sebuah penyakit mematikan. Namun sebaiknya tidak usah buru-buru mendiskreditkan film ini, karena ternyata ia masih menyimpan kekuatan lain untuk menarik perhatian kita.

Read More

Jika sepuluh tahun yang lalu jaringan sosial media bernama Twitter sudah eksis, mungkin  linimasa saya akan dipenuhi dengan berbagai komentar tak berkesudahan tentang film Indonesia terbaru yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?). Namun, pada saat itu tidak perlu Twitter untuk mengabarkan dengan cepat betapa bagusnya film ini dan keharusan untuk menontonnya di bioskop. Layaknya wabah virus yang menyerang dengan kecepatan tinggi di film-film bertema zombie, kabar tersebut menyebar dengan cepat dan tidak heran gerombolan orang pun berbondong-bondong memenuhi bioskop.

Read More

Selama satu dekade terakhir, nama Kiefer Sutherland rasanya tidak bisa lepas dari karakter agen CTU, Jack Bauer ,  yang diperankannya dalam 192 episode di delapan musim penayangan serial aksi, 24. Oleh karenanya, saat Sutherland memutuskan untuk membintangi serial baru, bayang-bayang Bauer mau tidak mau mengikuti. Pertanyaan-pertanyaan semacam, “apakah dia akan kembali menjadi seorang agen tangguh?” atau “apakah serial barunya juga akan seseru 24?” pun menjadi sulit untuk dihindarkan. Jelang hampir dua tahun setelah musim terakhir 24, Sutherland akhirnya kembali ke serial televisi. Kali ini ia akan menjadi sentra utama dalam sebuah drama-supernatural berjudul Touch, kreasi Tim Kring (Heroes).

Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 482 other followers