Archive

Monthly Archives: December 2011

Dalam Ghost Protocol, judul keempat dalam seri film Mission: Impossible, Tom Cruise seolah tak ada matinya. Dengan melakoni berbagai adegan berbahaya, yang kabarnya dilakukan tanpa pemeran pengganti, ia seolah-olah menegaskan jika dirinya masih seorang mega-bintang yang solid. Nyaris dalam sepanjang durasinya, kita akan menyimak Ethan Hunt, agen rahasia IMF yang diperankan oleh Cruise, berjibaku dengan situasi yang mengharuskan dirinya melakukan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Bergayutan di gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai, bukan satu-satunya. Film semarak dengan ledakan, tembakan, adu jotos, kejar-kejaran, adu taktik, adu kecanggihan teknologi dan semacamnya. Lantas apa kelebihan film ini dibandingkan para pendahulunya?

Read More

Seperti yang tersebutkan di review Sherlock Holmes (2009) lalu, saya sangat menanti-nanti kehadiran sekuel filmnya karena akan hadirnya archenemy sang detektif kondang, Prof. James Moriarty sebagai lawan tangguhnya. Dan dalam Sherlock Holmes: A Game of Shadows, Guy Ritchie menepati janjinya, meski tidak ada Brad Pitt di sini seperti yang dirumorkan. Namun pilihan memakai salah satu aktor watak Inggris, Jared Harris, ternyata tidak sepenuhnya blunder, karena Harris mampu memberikan kedalaman yang cukup untuk karakternya, agar tidak jatuh menjadi villain satu dimensi ala film-film James Bond, meski untuk adegan-adegan yang membutuhkan ketangguhan fisik, harus diakui ia tampil dengan kurang meyakinkan.

Read More

Keputusan Columbia Pictures untuk merilis trailer berdurasi delapan menitan untuk The Girl With The Dragon Tattoo memang cukup mencengangkan. Ditengah banyak trailer yang justru membuka jalan untuk spoilers, bahkan yang berdurasi sangat pendek, tentu saja kekuatiran akan mengurangi kenikmatan saat nanti menyaksikan filmnya secara utuh pun bukan tidak beralasan. Bagi yang sudah menyaksikan versi Swedia untuk novel karya Stieg Larsson tersebut, menonton trailer ini seolah mengembalikan kenangan, karena David Fincher, sutradara versi Amerika, tampaknya juga mengambil atmosfir film tersebut sebagai bagian dari filmnya. Namun bagi yang sama sekali belum pernah menyaksikan film yang mengangkat nama Noomi Rapace ke tingkat Internasional tertsebut tidak usah takut.

Read More

Asghar Farhadi membuka A Separation (Jodái-e Náder az Simin, جدایی نادر از سیمین) dengan brilian. Sepasang suami istri, Nader (Peyman Moaadi) dan Simin (Leila Hatami) tengah berpolemik di sebuah ruang pengadilan. Mereka hendak bercerai. Keadaan begitu tegang. Bertahan dengan argumen masing-masing. Alasan sebenarnya dari perpisahan mereka bukan karena tidak saling menyintai, namun karena perbedaan kepentingan. Simin ingin mengajak keluarganya pindah ke luar negeri, demi masa depan yang lebih baik untuk putrinya, sedang Nader bersikeras untuk tetap tinggal di Iran, karena ayahnya tengah mengidap Alzheimer yang akut. Masing-masing mempunyai alasan yang bisa kita beri empati. Sebagai hakim kita pun merasa kebimbangan untuk berpihak kepada siapa. Ah maaf, kita bukan hakim, hanya penonton biasa. Tapi dengan membiarkan secara langsung Nader dan Simin berhadapan dengan kamera, Farhadi tampaknya dengan sengaja memposisikan kita tidak hanya sebagai pengamat namun sekaligus pemberi keputusan

Read More

Kasih ibu itu seharusnya tulus, bahkan semenjak ia mengandung anak-anaknya. Namun bagaimana jika ternyata ia tidak bisa menyukai anak yang telah susah payah dilahirkannya? Bagaimana jika ia menganggap sang anak adalah beban dalam kehidupannya? Bagaimana jika sang anak ternyata layaknya titisan iblis yang tujuan dalam hidupnya adalah membuat sang ibu menderita sepanjang hidupnya? Lantas apa yang harus di lakukan sang ibu? Dilematika seperti inilah yang harus dihadapi oleh seorang Tilda Swinton dalam We Need To Talk About Kevin, sebuah film karya Lynne Ramsay yang diangkat dari novel berjudul sama buah pena Lionel Shriver.

Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 482 other followers