
Seingat saya melodrama Indonesia umumnya tak pernah lepas dari haru-biru romansa yang berbau dengan kematian. Kematian yang selalu berperan untuk menggerakkan arus emosi di dalam pergerakan alurnya. Kematian yang seolah-olah menjadi alat untuk memancing rasa haru dan kasihan kepada karakter-karakternya. Dan Malaikat Tanpa Sayap (MTS) sebuah film yang rilis di awal 2012 masih menggangap formula klise tersebut ampuh dalam menjadi agenda berceritanya. Kisah sepasang muda-mudi yang kekuatan cintanya harus diuji dengan maut yang membayangi karena, tiada lain tiada bukan, sebuah penyakit mematikan. Namun sebaiknya tidak usah buru-buru mendiskreditkan film ini, karena ternyata ia masih menyimpan kekuatan lain untuk menarik perhatian kita.




